Responsive image

Belajar Jualan

12/07/2020

Sahabat The Coach, Salam TheWill!

Jualan berhubungan erat dengan sales people. Sales people bertindak melakukan closing pada setiap penjualan (selling). Meskipun bahan-bahannya dari departemen marketing, sales people juga punya peran yang penting dalam pertumbuhan suatu perusahaan.

Saya suka sekali mengikuti perjalanan Merry Riana, sahabat yang manis untuk membangkitkan semangat yang ada di dalam diri. 

Ini cerita yang paling berkesan untuk saya, tentang kisah petani. Saya akan ceritakan singkat untuk Sahabat. 

Di suatu desa, hiduplah seorang petani yang hanya memiliki seekor kuda. Dia sangat loyal kepada kudanya. Saat tetangganya datang dan menawarkan diri untuk membeli kudanya, Pak Petani tidak mau. 

Tetapi suatu hari, Pak Petani kehilangan kudanya. Si Tetangga berkata, "Sial sekali! Kuda satu-satunya hilang. Seandainya saja mau kubeli, kan lumayan."

Pak Petani membalas dengan senyuman dan menjawab, "Terima kasih."

Setelah beberapa hari Sang Kuda kembali dan membawa teman-temannya. Pak Petani mulai kebingungan karena dia tidak memiliki lahan yang luas. Dia pun menjual kuda-kuda liar itu ke kota dan ke tetangganya. 

Seperti biasa, Si Tetangga datang dan berkata, "Hwa, beruntung sekali! Kuda itu pulang membawa teman-temannya. Dan mereka bisa dijual."

Lagi-lagi Pak Petani menjawab dengan senyuman dan berkata, "Terima kasih."

Itulah sekilas kisah petani. Setiap yang datang selalu diterima apa adanya dan disyukuri sebagaimana mestinya. Pak Petani tidak membalas dengan keluhan. Dia hanya selalu tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Inilah hal yang patut dicontoh dan ditiru. 

Dalam penjualan, Sahabat mungkin pernah terlintas dalam diri, "Sial sekali hari ini! Tak ada satu pun closing!" atau "Hari ini hari keberuntunganku. Closing-ku memenuhi target!"

Jeng Jeng....

Hayo, ngaku?  Nggak usah malu apalagi sungkan sama diri sendiri, ya. Saya juga pernah menemui hal-hal seperti itu. Bahkan pernah terjadi pada diri saya sendiri. Saya mengeluh jika hari itu tidak sesuai dengan target closing penjualan. Tapi, saya sangat bahagia dan bersyukur sekali saat hari-hari penuh keberuntungan. Ini wajar terjadi. 

Hari sial dan hari beruntung adalah hari yang kita ciptakan sendiri. Hari yang kita ciptakan dengan perspektif kita sendiri. Pasalnya, saya sekarang sudah sadar. Saya menggantinya dengan kata "Hari Pembelajaran". Ini tidak terkesan sombong kok, apalagi aneh. Di balik hari yang tidak sesuai dengan keinginan target, kita dituntun belajar. 

Saat kita mau menerima semua yang terjadi dengan apa adanya setelah melakukan usaha terbaik, otomatis kita akan mensyukuri semua pemberian-Nya. Kita harus membiasakan diri untuk bersyukur. Ini akan membuat Sahabat jadi tangguh karena akar tanaman Sahabat kuat, pondasi bangunan Sahabat bagus. 

Sekarang saya mau bertanya pada Sahabat,

"Aku bahagia, maka aku bersyukur atau Aku bersyukur, maka aku bahagia?" 

Jujur saja, Sahabat! Nggak perlu takut mengakui kalau berbeda. Yaps, rasa bahagia adalah efek yang ditimbulkan dari kegiatan yang kita lakukan. Saat kita sudah melakukan yang terbaik semampu kita saat selling, kita perlu menghargai perjuangan kita. Kita perlu bersyukur, "Terima kasih sudah berjuang untuk hari ini!"

Memang terlihat sederhana sekali, Sahabat! Tapi kata itu mampu memberi efek bahagia. Jika Sahabat bahagia, semangat Sahabat untuk mencapai target closing akan tinggi. Dan ini akan berpengaruh pada penjualan Sahabat. Jadi, "Aku bersyukur, maka aku bahagia" adalah salah satu hal yang harus dipraktikkan dalam setiap harinya. 

Sekarang bayangkan sebaliknya, Sahabat. "Aku bahagia, maka aku bersyukur". Sabahat menjadikan efek sebagai pusat roda selling. Bagaimana kalau efeknya duka, tidak bahagia, merasa sial, dan lainnya? Sahabat akan tidak bersemangat saat menyambut hari baru, yang terrefleksi di pikiran, "Halah, palingan sama kayak hari kemarin. Gimana cara capai target kalau konsumennya saja berkurang, apalagi habis pandemi gini?" 

Pikiran Sahabat akan terus menjadi liar, mengeluhkan semua yang terjadi. Sahabat akan lupa jika Sahabat punya pintu lain untuk mengakses peluang tersebut. Ada What's Apps, Facebook, TikTok, atau media sosial lainnya yang bisa diakses untuk melakukan penjualan dengan mudah dan efektif, baik pendekatan secara personal maupun kelompok. 

Jeng Jeng ....

Bagaimana Sahabat? Sudah siap mengubah mindset? 

Belajar jualan memang sangat kompleks. Kita harus belajar mengenali diri kita sendiri, bagaimana konsep berpikir kita dan bagaimana kepribadian kita sebenarnaya. Tenanglah Sahabat! Semua belum terlambat! Selagi kita siap belajar, semuanya akan baik-baik saja. 

Ada TheWill, ada Coach Willy.

©2020 coachwilly.com. All rights reserved.